Senin, 30 Juli 2012

scrap for orkut

hello Scraps
JAKARTA: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menghimbau umat Islam untuk menjalankan salat sunah khusuf (gerhana) dan tidak mengaitkan fenomena alam itu dengan takhayul. Melalui pernyataan resmi di situs resmi Nahdlatul Ulama (nu.or.id), Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj mengatakan tidak benar jika gerhana bulan atau matahari berkaitan dengan mati atau lahirnya seseorang. Gerhana merupakan bagian dari min ayatillah atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT. "Kalau terjadi gerhana, baik bulan atau matahari, maka jalankan salat sunah gerhana. Tidak benar anggapan gerhana terjadi karena mati atau lahirnya seseorang," tegas Kiai Said di Jakarta. Said menambahkan pelaksanaan salat gerhana dilakukan secara berjamaah sebanyak dua rakaat. Terdapat dua kali sujud dan dua kali rukuk pada setiap rakaatnya. Setelah salat disunahkan untuk berkhutbah. Berikut ini tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut: 1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu. 2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi. 3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan, ”Ash-shalatu jaami'ah.” 4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams) atau gerhana bulan (khusufil-qamar), menjadi imam atau ma’mum. أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى 5. Sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat. 6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud. 7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat kembali 8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. Misalnya rakaat pertama membaca surat Yasin (36) dan ar-Rahman (55), lalu raka’at kedua membaca al-Waqiah (56) dan al-Mulk (78) 9. Setelah sholat disunahkan untuk berkhutbah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar